Sejarah Kaos Oblong: Model Kaos yang Fenomenal

4.bp.blogspot.com

Dikenal juga dengan sebutan nama T-shirt yakni jenis pakaian yang menutupi sebagai lengan, seluruh dada, bahu, dan perut. Kaos oblong biasanya tidak memiliki kancing, kerah, ataupun juga saku.

Pada umumnya, kaos oblong berlengan pendek dalam artian melewati bahu hingga sepanjang siku dan berleher bundar. Bahan yang umum digunakan untuk membuat kaos oblong adalah katun atau polyester atau bisa jadi gabungan keduanya.

Mode kaos oblong meliputi juga mode untuk wanita dan pria, dan bisa di pakai di semua golongan usia, termasuk bayi, remaja, ataupun orang dewasa.

Awalnya kaos oblong digunakan sebagai pakaian dalam. Tapi sekarang tidak hanya digunakan sebagai pakaian dalam tetapi juga sebagai pakaian sehari-hari.

Sejarah Kaos Oblong

Awalnya digunakan sebagai pakaian,  dalam tantara Inggris dan Amerika di abad 19 sampai awal abad 20. Asal muasal nama inggrisnya, T-shirt, tidak diketahui secara pasti.

Teori yang paling umum diterima adalah nama T-shirt berasal dari bentuknya menyerupai huruf “T”, atau bisa juga dikarenakan pasukan militer sering menggunakan pakaian jenis ini sebagai “training shirt”.

Masyarakat pada umumnya belum mengenal penggunaan kaos atau T-shirt dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan para tantara menggunakan kaos ini ketika udara panas atau aktivitas-aktivitas yang tidak menggunakan seragam.

Pada saat itu kaos oblong warna dan bentuknya hanya itu-itu saja. Maksudnya, hanya berwarna putih saja tidak ada penambahan warna, tidak ada variasi ukuran, kerah dan lingkar lengan.

Awal Kepopuleran

Marlon brando adalah orang yang mempopulerkan kaos oblong ini di tahun 1947, tepat ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya Tenesse William di Broadway, Amerika Serikat.

T-shirt yang berwarna abu-abus sangat cocok sekali di tubuh Brando, serta sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. Dan film Rebel Without A Cause 1995 dibintangi James Dean.

Pada saat itu penonton langsung berdecak kagum dan terpaku. Meski demikian, ada juga penonton yang protes, yang beranggapan bahwa pemakaian kaos oblong tersebut termasuk kurang ajar dan pemberontakan.

Lalu muncullah polemik mengenai kaos oblong. Polemik ini terjadi Karena sebagian kalangan menilai pemakaian kaos oblong atau undershirt dinilai sebagai busana luar yang tidak sopan dan tidak beretika.

Namun beda di kalangan anak muda pasca pentas teater tahun 1947 itu, mereka beranggapan ini adalah sebagai lambang kebebasan anak muda. Dan bagi anak muda, kaos oblong bukan semata mode atau trend tapi juga bagian dari keseharian mereka.

Justru polemik tersebut malah menaikkan publisitas kaos oblong dalam dunia percaturan mode. Akibatnya pula, beberapa perusahaan konveksi mulai bersemangat memproduksi kaos ini.

Kemudian mereka mengembangkannya dalam berbagai bentuk dan warna serta memproduksinya secara besar-besaran. Di tahun 1961 sebuah organisasi (Underwear Institute) menuntut agar kaos oblong diakui sebagai baju yang sopan. Mereka mengatakan, kaos oblong juga merupakan karya busana yang telah menjadi bagian budaya mode.

Menjadi Trend Anak Muda

Pertengahan tahun 50 an, T-Shirt sudah mulai menjadi bagian dari dunia fashion. Namun pada tahun 60an ketika pada saat itu kaum hippies mulai merajai dunia, t-shirt benar-benar menjadi state of fashion itu sendiri.

Sebagai simbol yang lagi-lagi anti kemapanan, para hippies ini menggunakan t-shirt atau kaos sebagai salah satu simbolnya. Bahkan para penggiat bisnis menyadari bahwa t-shirt dapat menjadi medium promosi yang efektif dan efisien.

Segala persyaratan sebagai medium promosi yang baik ada di t-shirt. Murah, mobile, fungsional, dapat dijadikan souvenir, dan seterusnya.

Dengan segala kemampuannya, t-shirt tidak lagi menjadi sederhana. Jelas, secara fungsional benda tersebut masih berlaku sebagai sebuah sandang. Namun dibalik itu semua, t-shirt memiliki value yang melebihi dari fungsi dasarnya.

Sejarah akan terus mencatat desain berbagai kaos seperti tie dye yang lekat dengan flowers generation, komunitas punk yang lekat dengan t-shirt sobek, polos bahkan dengan desain typohraphy yang mencolok.

Dijadikan Identitas Pemakainya

Siapapun anda, konsumen, pemilik perusahaan, manajemen band, atau siapapun, bia dengan mudah menunjukkan siapa diri anda hanya dengan memakai t-shirt dengan desain typohraphy atau perpaduan elemen desain lain.

Pemakaian kaos dalam berbagai kesempatan memeberikan juga peluang bagi para desainer dalam berkarya. Fungsinya yang semakin melebar sangat bisa mendukung perkembangan desain itu sendiri.

Berjamurnya clothing dan distro dikalangan bisnis modern adalah salah satu kemajauan yang positif dalam dunia desain. Berbagai karya desain yan diimplementasikan dalam medium t-shirt, kini semuanya menjadi mungkin.

Namun, perkembangan yang demikian masif harus tetap juga disikapi dengan baik, kemasifan sesuatu hal terkadang menjadikan desain hanya sebagai produk instan yang tidak memperhatikan faedah-faedah desain, Karena itulah pengetahuan desainer akan prinsip-prinsip desain sangat diperlukan.

Kaos Oblong di Indonesia

Kaos Joger Bali

Konon, kaos ini dibawa oleh orang-orang belanda. Namun perkembangannya belum pesat, Karena di Indonesia teknologi pemintalannya belum maju. Akibatnya kaos ini termsuk barang mahal.

Baru menampakkan perkembangan yang signifikan sehingga sampai kepada pelosok pedesaan di awal tahun 1970. Wujudnya pun masih konvensional. Berwarna putih, bahan katun halus tipis. Merek yang terkenal ketika itu adalah swan dan 77.

Tahun 1990 an adalah tahun dimana dunia kaos Indonesia diramaikan oleh maraknya insan-insan yang kreatif yang menjual kaos dengan design sendiri dan memproduksi sendiri, serta menjual di took sendiri.

Mereka inilah yang dikenal sebagai Distro Clothing. Distro semdirir merupakan singkatan dari “Distribution Outlet” yang berarti toko yang mendistribusikan atau menjual barang-barang unik, termasuk kaos.

Leave a Reply